Komunitas Meiofauna Bentik yang Terpengaruh Air Bahang di Perairan PLTU Paiton Probolinggo

Muhammad Ali Sofani, Farid Kamal Muzaki
Submission Date: 2015-08-05 14:49:11
Accepted Date: 2016-01-20 12:41:30

Abstract


Pembangkit listrik merupakan salah satu teknologi untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Pembangkit listrik tenaga uap mempunyai produk samping berupa limbah air panas hasil pendinginan kondensor yang dialirkan kembali ke perairan di sekitar PLTU. Air pendingin yang bersuhu relatif tinggi, volume besar dan secara terus menerus dialirkan ke perairan akan mempengaruhi kondisi lingkungan dan biota yang ada di dalamnya. Dari sekian banyak komponen biotik penyusun ekosistem pesisir yang menarik untuk dikaji dan diteliti adalah komunitas meiofauna bentik. Meiofauna bentik secara ekologis mampu memberikan respon terhadap perubahan lingkungan sehingga dapat dijadikan sebagai bioindikator kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air bahang terhadap struktur komunitas meiofauna bentik di perairan PLTU Paiton. Parameter yang diamati adalah kelimpahan dan keanekaragaman meiofauna bentik. Sedangkan parameter lingkungan meliputi suhu, salinitas, pH, DO, TOM, dan ukuran partikel. Hasil penelitian ini ditemukan 16 taksa meiofauna yang mewakili 8 Famili/Ordo,  dan taksa meiofauna yang mendominasi adalah Foraminifera (38%) dan Harpacticoida (21%), sedangkan yang paling rendah adalah Amphipoda 1%. Keanekaragaman komunitas meiofauna bentik termasuk kategori sangat baik dengan nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 2,526 – 2,642.

Keywords


Air bahang; keanekaragaman; kelimpahan; meiofauna; PLTU Paiton

References


P. Fudlailah, Mukhtasor dan M. Zikra. Pemodelan Penyebaran Limbah Panas di Wilayah Pesisir (Studi Kasus Outfall PLTU Paiton). Publikasi Online Mahasiswa ITS (2012).

M. Hutomo dan O.H. Arinardi. Dampak pembangkit Tenaga Listrik (Terutama Limbah Termal) Terhadap Ekosistem Akuatik. Jurnal Oseana. Volume XVII, No 4: 135-158 (1992).

O. Giere, Meiobenthology: The microscopic fauna in aquatic sediment. Spinger-Verlag, Berlin: xv+ 328 hlm (1993).

R.P. Higgins dan H. Thiel. Introduction to the study of meiofauna. Smithsonian Institute Press, Washington DC (1988).

M. Balsamo, F. Semprucci, F. Frontalini dan R. Coccioni. Meiofauna as a Tool for Marine Ecosystem Biomonitoring. Marine Ecosystems, Dr. Antonio Cruzado (Ed.) Department of Earth, Life and Environmental Sciences (DiSTeVA), University of Urbino, Italy (2012).

W. Kiswara, M.K. Moosa dan M. Hutomo. Struktur Komunitas Biologi Padang Lamun Di Pantai Selatan Lombok Dan Komdisi Lingkungannya. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI (1994).

Susetiono. Meiofauna of segrass beds in Kuta Bay, Lombok, Indonesia. Proceeding of Seventh Join Seminar on Marine Science. Tokyo: JSPS and ORI, University of Tokyo (1996).

Mukhtasor. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta: PT. Pradnya Paramita (2007).

C. Cahyana. Model Sebaran Panas Air Kanal Pendingin Instalasi Pembangkit Listrik Ke badan Air Laut. Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah IX. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (2010).

S. Cahyaningsih. D. Rahayuningwulan dan E.S. Pujilestari. Sebaran air limbah bahang akibat kegiatan sistem pembangkit tenaga uap. Penelitian Masalah Lingkungan di Indonesia. 333-341 (2013).

F.K. Muzaki. Pengaruh Negatif Kegiatan Wisata Terhadap Komunitas Meiofauna Bentik Di Pantai Berpasir. Tesis. Program Studi Magister (S2) Biologi, Jurusan Biologi, Universitas Airlangga (2011).

G. Fonseca, P. Hutchings dan F. Galluci. Meiobentic communities of segrass bed (Zostera capricorni) and unvegetated sediments along the coast of New South Wales, Australia. Estuarine, Coastal and Shelf Science. 91: 69-77 (2011).

M.S. Wibisono. Pengantar Ilmu Kelautan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta (2005).

Zulkifli. Dinamika komunitas Meiofauna Interstrial Di Perairan Selat Dompak Kepulauan Riau. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (2008).

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut.

M.H. Azkab dan M. Muchtar. Seberapa Jauh Peranan Oksigen di Laut? Jurnal Oseana. Volume XXIII No. 1: 9-18 (1998).

S.M. Long dan O.B.H. Ross. Vertical distribution of nematodes (nematoda) and harpacticoid copepods (copepoda: harpacticoida) in muddy and sandy bottom of intertidal zone at Lok Kawi, Sabah, Malaysia. The Raffles Bulletin of Zoology. 47(2): 349-363 (1999).

L. Kotwicki. Benthic harpacticoida (crustacea, copepoda) from the Svalbard archipelago. Polish Polar Research. Vol.23 No.1: 185-191 (2002).

R. Jayabarathi, G. Padmavati dan I. Anandavelu. Abundance and Species Composition of Harpacticoid Copepods from a Sea Grass Patch of South Andaman, India. Current Research Journal of Biological Sciences. Vol 4(6): 717-724 (2012).

F. Sempprucci. Marine Nematodes from the Shllow Subtidal Coast of the Adriatic Sea: Species List and Distribution. International Journal of Biodiversity. Hndawi Publishing Corporation. 187659 (2013).

N.L. Arroyo. M. Maldonado, R. Perez-Portela dan J. Benito. Distribution pattern of meiofauna associated with a sublittoral Laminaria bed in the Cantabrian Sea (notrh-eastern Atlantic). Marine Biology. 144: 231-242 (2004).


Full Text: PDF

CC Licencing


Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lembaga Penjaminan Mutu, Pengelolaan dan Perlindungan Kekayaan Intelektual (LPMP2KI) ITS
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.