Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal

Ariq Amrizal Haqy, Endrotomo Endrotomo
Submission Date: 2017-08-01 03:44:12
Accepted Date: 2017-12-31 15:38:19

Abstract


Hunian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang paling mendasar. Kebutuhan akan hunian dan permasalahan keterbatasan lahan, maka mendorong pengembangan hunian vertikal. Namun hunian vertikal yang ada saat ini banyak memisahkan penghuninya dengan jalanan dan masyarakat sekitar yang berakibat interaksi dan keakraban menjadi mulai pudar. Interaksi sosial tersebut hakikatnya merupakan sebuah modal sosial untuk menjadi masyarakat produtif yang sejahtera.

Disisi lain, masyarakat memilih untuk tinggal di hunian vertikan karena alasan privasi. Kebutuhan masyarakat yang fundamental, bertabrakan dengan keinginan individu di masa kini. Hal tersebut merupakan permasalahan yang terkait dengan arsitektur sebagai wadah aktifitas manusia. Sehingga konsep defensibel space akan diterapkan pada rancangan sehingga hunian dapat terbuka untuk umum tanpa mengorbankan privasi penghuninya.

Empat unsur yang digunakan untuk mengaplikasikan defensible space yaitu territoriality, natural surveillance, dan image and milieu, untuk menciptakan safe area. Teori merancang ruang luar dari Yoshinobu Ashihara digunakan sebagai panduan untuk mengatur zona dan ruang sehingga menciptakan territoriality dan natural surveillance yang diharapkan. Akses visual penghuni menuju ruang luar, pengaturan zoning, dan kesan meruang pada bangunan merupakan poin utama.

Sehingga fasilitas umum diletakkan pada bangunan agar dapat mengundang masyarakat luar untuk beraktifitas. Lalu bentuk lingkungan berupa setengah lingkaran dan disusun secara diagonal untuk memaksimalkan akses visual penghuni ke ruang luar dan mempertegas batas zona public dan privat tanpa mengahalangi secara fisik.


Keywords


akses visual; arsitektur; defensibel space; privasi; rancangan; ruang; social; urban; vertical housing; zoning

References


. Julianto, P. A. (2016, September 17). Hingga 2025, Kebutuhan Rumah di Indonesia Tembus 30 Juta Unit. Diambil kembali dari bisnis keuangan kompas: http://bisniskeuangan.kompas.com

. Statistika, B. P. (2014, Februari 18). Proyeksi Penduduk Menurut Provinsi. Diambil kembali dari Badan Pusat Statistika: https://www.bps.go.id

. Loomans, T. (2014, September 29). 7 Reasons Why High-Rises Kill Livability. Diambil kembali dari Smart Cities Dive: http://www.smartcitiesdive.com

. Jr., J. A. (2001). Site Analysis. Canada: John Wiley & Sons, Inc.

. Wikipedia. (2015, Oktober). Diambil kembali dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas: https://id.wikipedia.org/

. Nasional, B. S. (2005). Tata cara perencanaan lingkungan perumahan . Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

. Surabaya, P. (2014). RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN 2014-2034 . Surabaya: Pemkot Surabaya.

. Surabaya, P. (2014). PEDOMAN TEKNIS PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG. Surabaya: Pemkot Surabaya.

. Surabaya, P. (2015). PEDOMAN TEKNIS PELAYANAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN. Surabaya: Pemkot Surabaya.

. Sudiadi, D. (2003). Defensiable Space: Operasionalisasi Model Pencegahan Kejahatan Secara Kolektif di Perumahan. Jurnal Kriminologi Indonesia, 1-11.

. Ashihara, Y. (t.thn.). EXTERIOR DESIGN IN ARCHITECTURE. Tokyo.


Full Text: PDF

CC Licencing


Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lembaga Penjaminan Mutu, Pengelolaan dan Perlindungan Kekayaan Intelektual (LPMP2KI) ITS
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.