Pembuatan Insoluble Sulfur dari Olahan Limbah Sulfur PT. Pertamina RU IV Cilacap

Zikrina Istighfarah, Risanti Delphia, Setiyo Gunawan
Submission Date: 2016-07-15 16:58:16
Accepted Date: 2016-12-29 01:37:03

Abstract


Limbah atau produk samping yang dihasilkan dari pabrik kilang minyak dan gas adalah H2S, CO2 dan lain-lain yang disebut gas asam. Kandungan gas-gas tersebut di dalamnya sangat berbahaya sehingga tidak diperbolehkan untuk langsung dibuang ke lingkungan. Sangat diperlukan beberap perlakuan khusus untuk menguraikan gas buang tersebut. Proses yang paling sering digunakan adalah Amine Gas Ttreating diikuti Claus Process. Produksi insoluble sulfur dapat diperoleh melalui beberapa tahapan yaitu pelelehan dan penguapan sulfur dengan vaporizer, proses pencampuran sulfur vapor dengan larutan pendingin (quenching), dan pemisahan insoluble sulfur. Pengolahan sulfur dari limbah kilang minyak ini terdapat di salah satu kilang Pertamina RU IV Cilcacap. Kebutuhan insoluble sulfur Indonesia pada tahun 2022 adalah sebesar 52.239,9029 ton. Kapasitas produksi soluble sulfur PT. Pertamina RU IV adalah 64 metrik ton/hari atau sama dengan 19.200 ton/tahun. Sehingga kapasitas pabrik insoluble sulfur yang akan didirikan disesuaikan dengan bahan baku yang tersedia tersebut. Pabrik ini direncanakan memproduksi insoluble sulfur sebesar 18.000 ton/tahun atau 25% dari kebutuhan nasional. Pabrik beroperasi secara kontinyu selama 24 jam/hari, 300 hari operasi /tahun. Menurut analisis ekonomi pendirian pabrik insoluble sulfur memerlukan biaya investasi modal tetap (fixed capital) sebesar Rp 383.112.945.565,79, modal kerja (working capital) Rp 67.608.0166.864,55, investasi total Rp 450.721.112.430,34, biaya produksi per tahun Rp 309.955.658.674,86, dan hasil penjualan pertahun Rp 648.522.979.452. Dari analisa ekonomi didapatkan BEP 37,53%, POT sesudah pajak 4,412 tahun. Dari segi teknik dan ekonomi, pabrik insoluble sulfur ini layak untuk didirikan.


Keywords


insoluble sulfur; soluble sulfur; analis ekonomi

References